SUARABMI.COM - Kurangnya kasih sayang dari orang-orang terdekat, terutama orangtua, diduga menjadi pemicu tindakan bunuh diri atau percobaan bunuh diri di kalangan remaja dan pelajar di Kecamatan Hu’u dua tahun terakhir ini. 

Selain itu, pengaruh media sosial seperti Facebook yang diakses para remaja melalui ponsel pintar juga menjadi faktor lainnya. Itu antara lain simpulan percakapan Info Dompu dengan pihak sekolah salah satu SMK di Kecamatan Hu'u pada Selasa, 19 Maret 2019.

“Sekitar 40 persen siswa kami yang bermasalah punya masalah di keluarganya. Misalnya orangtuanya sudah cerai atau ditinggal pergi mencari nafkah keluar daerah,” ujar Al-Uswatun, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMKN 1 Hu’u di kantornya.

Hal itu terungkap dari kunjungan rumah yang biasa dilakukan pihaknya sebelum maraknya kasus bunuh diri tersebut. 
[ads-post]
Al-Uswatun, yang juga bertindak sebagai guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP) menjelaskan, pihaknya selalu mengunjungi siswa yang menunjukkan tanda-tanda masalah, misalnya siswa yang jarang masuk sekolah atau nilai akademik rendah.

Dari kunjungan tersebut diketahui banyak siswa yang terpaksa tinggal dengan neneknya atau diasuh paman dan bibinya. Karena tidak tinggal dengan orang tua, sebagian kebutuhan siswa kurang terpenuhi seperti kasih sayang dan kebutuhan pokoknya sebagai anak tidak terpenuhi.

Sudah dua siswa SMKN 1 Hu’u yang tewas bunuh diri dalam rentang waktu berdekatan dengan meminum racun jenis insektisida, DuPont Lannate, yakni Wulan dan Siska. Wulan berasal dari Desa Hu'u, sedangkan Siska dari Desa Sawe. Wulan meninggal pada Januari 2019 sedangkan Siska pada awal Maret ini.

Berdasarkan penelusuran pihak sekolah, Wulan tinggal dengan neneknya karena kedua orang tuanya bekerja sebagai TKI di Malaysia.

Kurang Kasih Sayang Karena Kedua Ortu Jadi TKI Hingga Pengaruh Facebook, Remaja Ini Bunuh Diri

Diberdayakan oleh Blogger.
close