"Angsale ical kabare niku nggeh pun meh sakumure thole, (Hilang kabarnya itu sudah hampir seumuran thole). Dulu, tahun 2009, Iin pulang dalam kondisi hamil, terus tahun 2010 melahirkan. Tahun 2011 pergi lagi ke Hong Kong sampai sekarang tidak pernah mau ngabari, tidak pernah pulang, tidak pernah ngirimi uang untuk anaknya. Ditinggal plas begitu saja." papar Yatini, ibunda Indrawati, seorang TKW Hong Kong asal Segorogunung Ngargoyoso Karanganyar Jawa Tengah.

Yatini menambahkan, Indrawati hingga saat ini sepengetahuan dia dan keluarganya belum menikah, statusnya masih lajang, meskipun telah melahirkan seorang bayi laki-laki yang kini telah tumbuh menjadi anak berusia 9 tahun bernama Ilham Prasetya Rajiv. "Rajiv itu katanya nama bapaknya Ilham. Dia orang Nepal kata Iin” lanjutnya.

Sejak Ilham ditinggalkan Iin pada neneknya untuk kembali bekerja ke Hong Kong akhir tahun 2011 silam, usia Ilham belum genap setahun. “Taksih bar dipitoni (baru ditujuhbulani)” terang Yatini.

Keberangkatan Iin ke Hong Kong awalnya merajut harapan bagi Yatini, bukan sesederhana persoalan ekonomi untuk menghidupi Ilham semata, melainkan juga harapan sebagaimana yang dijanjikan oleh Indrawati untuk membawa pulang laki-laki berkebangsaan Nepal yang menurutnya telah menjadi suaminya untuk melakukan pernikahan ulang sesegera mungkin di Karanganyar.

Seiring dengan berjalannya waktu, setelah tahun demi tahun berlalu, harapan tersebut pupus oleh ketiadaan kabar Indrawati.
[ads-post]
Berbagai upaya dilakukan Yatini untuk mencari tahu kabar anak perempuannya, untuk memberikan dasar penjelasan kepasa Ilham cucunya saat seringkali bertanya dimana ibunya dan siapa bapaknya. Namun upaya yang dilakukan Yatini tetap menghadapi jalan sunyi.

Hingga suatu hari, seorang kerabat jauh Yatini yang juga bekerja di Hong Kong berhasil menemukan Indrawati masih bekerja di Hong Kong.

“Tirose sederek sangking Kebak Kramat mriko, Iin niku taksih nyambut dhamel wonten Hong Kong ngantos sakniki. Sing nedhahi waunipun rencange pinakan niku wau (Katanya saudara yang bekerja di Hong kong, Iin sampai saat ini masih bekerja di Hong Kong, yang menunjukkan dimana orangnya, temannya keponakan Yatini” terangnya.

“Temannya keponakan ini ada yang pernah satu majikan dengan Iin. Katanya di daerah Mong Kok namanya. Tapi sekarang sudah pisah. Tapi Iin masih di Mong Kok sampai sekarang. Malah beberapa foto pernah dikirimkan ke saya “ lanjutnya.

Melihat foto-foto Iin di Hong Kong, Yatini merasakan kehidupan Iin di Hong Kong lebih dari sejahtera, sebab disamping mengenakan pakaian yang bagus, juga selalu dikelilingi barang-barang mahal seperti perhiasan dan gadget. Bahkan foto saat liburan diantara bule-bule juga Yatini lihat sendiri.

Kondisi tersebut berbalik 180 derajat dengan kondisi Ilham di kampung halaman. Dalam pengasuhan neneknya yang serba berkekurangan, jangankan memiliki pakaian bermerk, untuk mendapatkan sepatu dan tas sekolah saja, Ilham seringkali menunggu mendapat warisan dari saudara-saudaranya yang usianya diatasnya.

Suasana makan-makan juga terasa menciderai perasaan Ilham saat melihat foto-foto ibunya. Bermangkuk-mangkuk dan piring hidangan dalam sebuah meja besar, beraneka menu makanan yang disajikan untuk Iin bersama beberapa bule yang menjadi satu meja, berbanding terbalik dengan menu makan keseharian Ilham dan Yatini.

Untuk bisa menikmati daging ayam saja, Ilham seringkali menunggu ada tetangga yang selamatan.

“Saat melihat ibunya diantara bule-bule, kulo mboten kiat nahan tangis yen Ilham takon ‘Bapakku sing endi mak’ ? “ tutur Yatini yang terhenti oleh isak tangisnya.
 
Yatini dan Ilham berharap, Indrawati alias Iin alias Linda Boerge ingat dan peduli, utamanya terhadap Ilham anak semata wayangnya.

“Ilingo anakmu nduk, kowe lali karo ibumu ora opo-opo, tapi sebagai ibu, aku ngelengne, illingo anakmu. Wis lahir sampek saiki ora weruh sopo bapake, kawit bayi sampe gedhe mbok tinggal lungo ora ono kabare. Mesakno anakmu nduk, opo maneh saiki Ilham wis wayahe sunat, sekolahe tambah akeh ragate” pinta Yatini.

Ilham menitipkan pesan, untuk memberitahukan kepada Indrawati alias Iin alias Linda Boerge agar mau menghubungi dan mau pulang. Berikut petikan pesan Ilham :

“Ibu, Ilham seneng lihat foto-fotonya ibu yang dikasih lek Marini. Ibu cantik, tapi kenapa baju ibu kelihatan udhelnya semua ? Harga baju yang tidak kelihatan udhelnya seperti bajunya emak, di Hong Kong mahal ya Bu ?

Ibu, foto-foto ibu Ilham simpan di dalam tas. Kalau Ilham sekolah sering Ilham tunjukkan kepada teman-teman dan kepada Ibu guru. Ilham senang sekali saat mereka bilang “ibumu cantik, penampilannya kaya’.

Tapi ilham bingung saat mereka bertanya yang mana bapaknya Ilham. Ibu, Ilham kepingin ibu pulang dengan bapak. Ilham kangen bu. Ilham kepingin dikeloni ibu dan bapak. Kenapa ibu tidak pulang-pulang ? Apa sama majikan ibu, ibu tidak boleh pulang ?

Emak tidak punya HP, dan tidak tahu nomer HP ibu, Ilham ingin berkirim surat untuk ibu tapi tidak tahu alamatnya. Ilham titip pesan, katanya nanti akan disampaikan ke Ibu di Hong Kong. Ibu dengarkan pesan Ilham ya bu. Ilham kangen”
harap Ilham yang terhenti oleh tangisnya.

sumber: apakabar

Sembilan Tahun Tidak Ada Kabarnya, di Hong Kong Dandanan Indrawati Cantik Jelita, di Kampung Anaknya Hidup Merana

Diberdayakan oleh Blogger.
close