SUARABMI.COM - Kasus perceraian di Ponorogo tergolong unik. Sebab, sekitar 40 persen dari total kasus perceraian di Ponorogo dialami para Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang bekerja di Taiwan dan Hongkong.

Kasus perceraian di Ponorogo memang cukup tinggi. Ada banyak alasan istri menggugat cerai suaminya.

Ada faktor ekonomi, hubungan sudah tidak harmonis, perselingkuhan, dan terjadi kesenjangan pendapatan antara suami dan istri.

Namun dalam kasus perceraian di kalangan TKW mayoritas disebabkan perselingkuhan. Seperti yang dialami oleh Pria asal Ponorogo ini.
[ads-post]
Ia mengadu kepada redaksi bahwa dirinya digugat cerai oleh istrinya yang bekerja di Taiwan. "AQ di gugat cerai istriku di Taiwan......kok tegomen to sampean.....opo ora mesakne anakmu" Tulis Pria yang mempunyai akun facebook Wongponorogo Dlondonge Asrofi.

Dalam postingan lain kepada suara BMI ia juga bertutur kalau anaknya merindukan mamaknya di Taiwan dimana mamaknya di Taiwan sudah lama tidak pulang.

"Ini putriku...putriku kangen mamane, Sudah lama di Taiwan....malah kirim surat gugatan cerai" Tulisnya.

Perlu diketahui di Ponorogo sebenarnya ada perda yang mengatur TKI TKW dilarang melakukan perceraian saat mereka masih berada di luar negeri, namun perda itu hingga saat ini belum juga di sahkan oleh DPRD.

Dalam usulan raperda itu, setiap TKI/TKW, tidak boleh mengajukan perceraian ketika masih bekerja di luar negeri. TKI/TKW baru bisa mengajukan perceraian, setelah pulang dari luar negeri.

Aku Digugat Cerai Istriku Dari Taiwan, Ini Putriku Kangen Mamae

Diberdayakan oleh Blogger.
close